MENGUKUR TINGKAT KESIAPAN UKM MIKRO MELALUI PENDEKATAN MANAJEMEN AGILE TERSTRUKTUR
Kata Kunci:
Agile Terstruktur, Ukm Mikro, Kesiapan Organisasional, Manajemen Adaptif, Daya Saing UmkmAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan manajemen Agile Terstruktur terhadap tingkat kesiapan organisasional UKM Mikro di Indonesia yang mencakup dimensi operasional, sumber daya manusia (SDM), budaya organisasi, dan teknologi. Agile Terstruktur merupakan adaptasi kontekstual dari metodologi Agile yang disesuaikan dengan skala, kapasitas, dan keterbatasan struktural UKM Mikro. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-methods dengan desain sequential explanatory: tahap kuantitatif melibatkan 215 UKM Mikro di tiga wilayah metropolitan Indonesia yang dianalisis dengan Structural Equation Modeling (SEM), dilanjutkan tahap kualitatif berupa wawancara mendalam dengan 20 informan kunci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Agile Terstruktur secara signifikan meningkatkan kesiapan operasional (β = 0.512, p < 0.001), kesiapan SDM (β = 0.438, p < 0.001), kesiapan budaya (β = 0.471, p < 0.001), dan kesiapan teknologi (β = 0.389, p < 0.01). Kesiapan teknologi berperan sebagai moderator yang memperkuat hubungan antara Agile Terstruktur dengan daya saing UKM Mikro. Temuan ini memberikan kontribusi teoritis dalam memperluas literatur manajemen Agile pada konteks usaha mikro, sekaligus menghasilkan panduan implementasi praktis berbasis bukti yang dapat direplikasi oleh pelaku UKM Mikro dan pembuat kebijakan.
This study aims to analyze the effect of Structured Agile management implementation on the organizational readiness of Micro SMEs in Indonesia, encompassing operational, human resource, organizational culture, and technology dimensions. Structured Agile represents a contextual adaptation of Agile methodology tailored to the scale, capacity, and structural limitations of Micro SMEs. A mixed-methods approach with sequential explanatory design was employed: the quantitative phase involved 215 Micro SMEs across three Indonesian metropolitan areas analyzed using Structural Equation Modeling (SEM), followed by qualitative in-depth interviews with 20 key informants. Results indicate that Structured Agile implementation significantly enhances operational readiness (β = 0.512, p < 0.001), HR readiness (β = 0.438, p < 0.001), cultural readiness (β = 0.471, p < 0.001), and technology readiness (β = 0.389, p < 0.01). Technology readiness acts as a moderator strengthening the relationship between Structured Agile and Micro SME competitiveness. These findings contribute theoretically by extending Agile management literature to the micro-enterprise context while providing evidence-based practical implementation guidelines replicable by Micro SME owners and policymakers.




